News

Apakah Alergi Susu Sapi Dapat Disembuhkan?

Apakah Alergi Susu Sapi Dapat Disembuhkan?

Menjadi pertanyaan banyak orangtua, apakah bayi yang memiliki alergi susu sapi bisa sembuh atau tidak. Sama seperti anak atau orang dewasa lainnya, alergi bisa timbul pada bayi dan memiliki reaksi yang kurang lebih sama. 

Bagi para ibu yang memiliki kekhawatiran soal alergi pada bayi, simak penjelasannya di bawah ini.

Mengenal alergi yang mungkin dialami bayi

Alergi merupakan respon dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat asing. Sistem kekebalan bertugas untuk menjaga kesehatan tubuh dengan melawan bakteri patogen. Alergen yang dipandang sebagai zat asing (yang sebenarnya tidak berbahaya), umumnya menyebabkan peradangan, bersin, atau beberapa gejala lainnya.

Alergi yang terjadi pada bayi tak hanya dari susu sapi saja, tetapi dari obat-obatan, lingkungan, maupun alergi musiman. Reaksi alergi akan muncul setelah bayi terpapar oleh alergen terkait.

Berikut ulasan jenis alergi yang mungkin dialami oleh bayi Anda.

1. Alergi susu sapi

berapa banyak susu formula untuk bayi

Bayi yang mengalami alergi protein susu sapi, tubuhnya mengalami reaksi saat menerima asupan susu formula. Karena susu sapi akan jadi kebutuhan di masa depan, tak sedikit ibu bertanya apakah alergi susu sapi pada bayi bisa sembuh.

Biasanya alergi susu formula berbasis susu sapi memiliki gejala umum seperti:

  • muntah
  • kulit gatal dan ruam
  • penurunan nafsu makan
  • diare disertai dengan feses yang berdarah
  • kolik

Ini terjadi karena tubuh melihat protein susu sapi yang masuk sebagai alergen. Atas kondisi ini, tubuh mengeluarkan reaksi dari antibodi yang dihasilkan sehingga berakibat pada timbulnya gejala alergi. Pastinya orangtua ingin tahu apakah ada cara agar bayi bisa sembuh dari alergi susu sapi. Namun, lebih banyak dibahas mengenai pengelolaan untuk meredakan gejala alergi.

2. Alergi makanan dan obat-obatan

memberi makan bayi pertama kali

Gejala alergi makanan atau obat-obatan mungkin hanya berlangsung selama beberapa menit atau 1-2 jam kemudian. Beberapa bayi bisa memiliki alergi seperti di bawah ini.

  • gatal-gatal
  • merah-merah
  • sesak napas hingga mengi

Gejala khas yang tampak pada alergi makanan, seperti mual, muntah, sakit pada bagian perut. Dalam beberapa kasus, bibir dan lidah anak mulai membengkak.

Pada kondisi reaksi alergi yang fatal bisa menyebabkan anafilaksis. Ketika tubuh bayi terkena paparan alergen, tubuh meneluarkan senyawa kimia yang berlebihan dan menyebabkan tubuh syok. Biasanya ditandai dengan penurunan tekanan darah drastis, penyempitan saluran napas, hingga sesak napas.

3. Alergi lingkungan

bayi sering bersin

Selain alergi susu sapi, ibu juga bertanya apakah alergi terhadap lingkungan bisa sembuh jika dialami oleh bayi. Sebetulnya alergi ini jarang terjadi pada bayi. Namun, bisa saja alergen ini datang dari debu, hewal perliharan yang berbulu, jamur, serbuk sari, sengatan serangga, dan lainnya.

Gejala alergi yang menyertai, di antaranya:

  • bersin
  • mata merah dan gatal
  • batung, mengi, hingga sesak
  • hidung meler

Adapun sebagian bayi mengalami alergi akibat paparan sampo, sabun, atau produk sejenis lainnya, sehingga menimbulkan reaksi alergi dermatitis.

4. Alergi musiman

penyebab sakit perut pada bayi

Hal ini biasanya terjadi hanya beberapa kali saja dalam setahun. Di negara-negara tertentu, serbuk sari yang berterbangan menjadi salah satu penyebab alergi pada bayi.

Dari segala alergi yang mungkin dialami oleh bayi, mungkin saja para ibu bertanya-tanya. Apakah alergi susu sapi atau alergi lainnya bisa sembuh?

Apakah bayi bisa sembuh dari alergi susu atau lainnya?

bayi prematur sakit

Orangtua ingin agar anaknya bisa tumbuh dan berkembang secara maksimal. Termasuk harapan agar anak bisa sembuh dari alergi susu sapi dan alergi lainnya. 

Bicara soal alergi susu sapi pada bayi, hasil riset menunjukkan bahwa anak yang mengalami alergi susu sapi di awal kehidupannya dapat berisiko mengalami perjalanan atau manifestasi gejala alergi sampai dengan usia 5 tahun kehidupannya. Namun hal tersebut dapat dicegah dengan pemberian nutrisi yang tepat. 

ASI merupakan pilihan nutrisi yang terbaik untuk anak dengan alergi susu sapi. Namun jika Ibu tidak lagi memberikan ASI, maka Ibu harus cermat dalam memilih dan memberikan alternatif susu formula untuk anak dengan alergi susu sapi. Orangtua bisa memberikan alternatif melalui susu formula terhidrolisa ekstensif. Susu ini dapat membantu memenuhi asupan nutrisi bayi sebagai pendukung tumbuh dan kembangnya. 

Menurut tata laksana Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), susu formula terhidrolisa ekstensif menjadi pilihan pertama untuk mengatasi gejala alergi susu sapi disertai dengan diet eliminasi makanan produks susu sapi dan turunannya. 

Sama seperti susu formula sapi, susu ini mengandung protein yang lebih mudah diterima tubuh. Susu formula terhidrolisa ekstensif artinya adalah kandungan protein yang ada didalam susu tersebut sudah terpecah menjadi bagian yang sangat kecil, sehingga bisa diserap secara optimal oleh anak dengan alergi susu sapi.

Susu formula terhidrolisa ekstensif mengandung protein yang dibutuhkan untuk perkembangan otak anak, meningkatkan sistem imunitas, serta mendukung pembentukan struktur tubuh anak.

Jika ibu bertanya, apakah bayi bisa sembuh dari alergi susu sapi? Konsumsi susu formula terhidrolisa ekstensif dapat mengurangi intoleransi atau alergi protein susu sapi. Termasuk meredakan gejala kolik akibat alergi pada bayi.

Ibu menyusui dan bayi

Benarkah susu terhidrolisa ekstensif bisa menyembuhkan alergi susu sapi?

ebuah penelitian dari jurnal The Role of Hydrolyzed Formula in Allergy Prevention mengatakan bahwa susu formula terhidrolisa baik ekstensif maupun parsial dapat menekan risiko pengembangan eksim untuk anak dengan tinggi risiko alergi.

Namun, masih dibutuhkan studi lanjutan untuk mengetahui apakah konsumsi susu ini bisa bantu bayi sembuh dari alergi susu sapi dan dipercaya dapat mencapai toleransi oral. Bila anak dapat mencapai toleransi oral, maka artinya si anak dapat kembali mengonsumsi produk susu sapi dan turunannya.

Ada baiknya orangtua berkonsultasi dengan dokter anak untuk mengetahui kemungkinan alergi susu sapi pada bayi, formula terhidrolisa ekstensif, manajamen diet susu sapi, dan seputar toleransi oral untuk anak dengan alergi susu sapi.

Ibu juga bisa berkonsultasi dengan dokter mengenai pemenuhan asupan nutrisi bayi melalui susu formula terhidrolisa ekstensif. Tanyakan soal kemungkinan bayi bisa sembuh dari alergi susu sapi. Imunolog pakar siap membantu agar si kecil mendapatkan perawatan yang tepat terkait alerginya.

sumber : hellosehat.com

Apakah Susu Terhidrolisa Ekstensif Aman untuk Bayi Alergi?

Apakah Susu Terhidrolisa Ekstensif Aman untuk Bayi Alergi?

Pastinya menjadi tantangan bagi para ibu untuk memberikan susu yang terbaik bagi buah hatinya. Bila anak mengalami alergi susu sapi, pemberian nutrisi adalah hal penting yang perlu dipahami. ASI adalah yang terbaik untuk bayi alergi. Namun, jika Ibu tidak memberikan ASI, maka menurut tata laksana Ikatan Dokter Anak Indonesia, susu formula terhidrolisa ekstensif sangat bisa menjadi pilihan para ibu sebagai pemberian asupan bayi yang memiliki alergi terhadap susu sapi.

Karena dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, ibu perlu memperhatikan kandungan nutrisi yang terbaik bagi bayinya. Untuk ibu yang bimbang dalam menentukan susu formula yang tepat, simak dulu penjelasan di bawah.

Alasan memilih susu alternatif bagi bayi alergi

umur bayi keluar rumah

Sebagian ibu berjuang memilihkan susu untuk anaknya agar ia tetap mendapatkan asupan penting. Contohnya ibu yang perlu memberikan susu formula karena pertimbangan kesehatan atau alasan lainnya.

Sayangnya, tak semua anak dapat menerima protein dari susu sapi karena menimbulkan alergi. Untuk mengatasi ini, orangtua sebenarnya bisa saja memberikan susu formula soya atau susu formula terhidrolisa ekstensif sebagai pengganti susu formula berbasis sapi.

Ada kalanya ibu tidak mengetahui bahwa si kecil ternyata memiliki alergi terhadap susu sapi formula. Ciri-ciri anak yang mengalami alergi protein susu sapi akan memperlihatkan gejala sebagai berikut seperti mencret atau diare, muntah, kolik, kulit gatal, tersedak. Ibu perlu kenali gejala alergi susu sapi lebih lanjut di sini.

Hal ini disebabkan sistem kekebalan tubuh bayi menganggap protein di dalam susu sapi sebagai substansi asing. Sehingga tubuh bereaksi dengan memproduksi antibodi. Antibodi ini disebut sebagai imunoglobulin E (IgE). Sehingga setiap kali bayi minum susu sapi, tubuh mengeluarkan IgE dan histamin. Inilah yang menimbulkan reaksi alergi pada bayi.

Orangtua perlu memberikan pengawasan ekstra tentang asupan bayi ketika mereka memiliki reaksi alergi susu sapi. Setidaknya anak yang mengalami alergi susu sapi di awal kehidupannya akan kembali mengalami gejala alergi susu sapi sampai dengan usia 5 tahun.

Bila Ibu masih memberikan ASI, maka Ibu harus melakukan diet eliminasi makanan produk susu sapi dan turunannya. 

Namun jika Ibu tidak memberikan ASI, maka Ibu harus memperhatikan pemilihan susu formula yang tepat. Kebanyakan orangtua memilih susu formula soya untuk memenuhi kebutuhan protein anak. 

Apakah susu soya terbaik untuk mengatasi alergi susu sapi pada anak?

jadwal menyusui bayi

Untuk mengatasi bayi yang memiliki alergi terhadap susu formula berbasis sapi, biasanya pilihan utama jatuh pada pemberian susu formula soya.

Namun, tak semua bayi ternyata bisa minum susu formula soya. Menurut Asthma and Allergy Foundation of America, setidaknya 8-14% bayi mengalami alergi protein pada soya atau kacang kedelai.

Anak dengan alergi soya bisa mengembangkan risiko enterokolitis. Kondisi ini mengacu pada peradangan pada sistem pencernaan, seperti pada usus kecil maupun usus besar.

Bila terjadi demikian, susu soya bukanlah alternatif yang bisa orangtua pilih untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Anda bisa beralih pada susu formula terhidrolisa ekstensif.

Susu formula terhidrolisa ekstensif bisa mengurangi gejala alergi

memberi susu formula untuk bayi

Susu yang termasuk hipoalergenik ini dapat melengkapi asupan bayi yang alergi terhadap protein susu sapi. Susu formula terhidrolisa ekstensif dibuat dengan memecah kasein atau protein di dalam susu sapi menjadi bagian kecil.

Metode ini dilakukan agar tubuh bayi dapat menerima protein yang masuk tanpa memandangnya sebagai alergen. 

Melalui konsumsi susu formula terhidrolisa ekstensif, bayi dapat mengurangi gejala alergi susu sapi pada bayi. Menurut laman Cochrane,  susu formula terhidrolisa ekstensif juga mengurangi angka kejadian terjadinya beragam alergi seperti asma, eksim, rhinitis, maupun alergi pada makanan.

Dengan demikian, melalui susu formula terhidrolisa ekstensif, bayi bisa memperoleh nutrisi yang tepat untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Protein di dalam susu tersebut mendukung pertumbuhan otak dan kognitif anak.

Selain itu, menurut tata laksana Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), susu formula terhidrolisa ekstensif menjadi pilihan pertama untuk mengatasi gejala alergi susu sapi disertai dengan diet eliminasi makanan produks susu sapi dan turunannya.

Kini, Anda tak perlu bingung lagi dalam memilihkan susu pada bayi dengan alergi susu sapi. Susu formula terhidrolisa ekstensif menjadi salah satu opsi yang aman untuk menjawab kebutuhan nutrisi si kecil.

Hal yang perlu diingat sebelum memberikan susu formula

Mungkin Anda juga bertanya-tanya, apakah bayi saya memiliki alergi susu sapi atau tidak. Alangkah baiknya orangtua melakukan tes alergi kepada anak ke dokter spesialis anak. 

Rangkaian tes dilakukan melalui feses dan dan darah. Biasanya mereka akan melakukan tes alergi pada kulit untuk mengetahui reaksinya. 

Bila bayi terdiagnosis memiliki alergi terhadap susu sapi, dokter akan merekomendasikan perawatan atau pemberian asupan khusus. Tak ada salahnya orangtua menanyakan apakah susu formula terhidrolisa ekstensif bisa menjadi pilihan yang baik untuk bayi serta manfaat lainnya dari susu formula terhidrolisa ekstensif.

sumber : hellosehat.com

Sama-sama Tidak Tinggi, Sebenarnya Apa Perbedaan Stunting dan Pendek?

Sama-sama Tidak Tinggi, Sebenarnya Apa Perbedaan Stunting dan Pendek?

Sama-sama identik dengan tubuh yang tidak tinggi, membuat stunting dan pendek kerap disamaartikan. Bahkan bagi yang belum paham di mana letak perbedaan stunting dan tubuh pendek mungkin akan mengira bahwa keduanya sama saja.

Padahal sebenarnya, tubuh anak yang stunting dan pendek biasa memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Hal tersebut yang juga akan memengaruhi penanganan kedua kondisi ini.

Tampak sama, ini perbedaan stunting dan pendek

Selain dari berat badan, faktor lain yang turut menentukan nutrisi anak sudah sesuai atau belum dapat dilihat dari tinggi badannya. Seorang anak dikatakan bergizi baik ketika tinggi badan sesuai dengan berat badannya, atau tinggi badan setara dengan usianya.

Jika dua hal tersebut tidak terpenuhi, anak bisa saja digolongkan ke dalam stunting maupun tubuh pendek. Namun, tubuh yang pendek biasa dan stunting tidaklah sama. Untuk mengetahuinya, berikut serangkaian perbedaan antara stunting dan pendek biasa pada anak.

1. Beda penyebabnya

7 penyebab anak pendek

Mengutip dari laman Kementerian Kesehatan RI, stunting adalah masalah kurang gizi kronis pada anak karena kekurangan asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.

Akibatnya, anak mengalami gangguan pertumbuhan yang membuat tinggi badannya lebih rendah atau pendek dibandingkan teman-teman seusianya.

Bukan hanya karena asupan gizi yang kurang, stunting juga dapat disebabkan oleh adanya penyakit infeksi berulang dan berat badan lahir rendah (BBLR). Ibu hamil yang tidak memperhatikan asupan gizi diri dan bayinya selama kehamilan juga berisiko menyebabkan pertumbuhan anak terganggu, sehingga menyebabkan stunting.

Butuh waktu cukup lama sampai semua hal penyebab stunting tersebut memengaruhi tinggi badan anak. Dengan kata lain, anak yang mengalami stunting biasanya telah mengalami kondisi kurang gizi dalam masa pertumbuhannya untuk waktu yang tidak sebentar.

Sementara anak dengan tubuh pendek biasa berbeda dengan stunting, umumnya anak bertubuh pendek tidak dikarenakan kekurangan asupan gizi, penyakit infeksi, dan BBLR.

Tubuh pendek biasa mungkin disebabkan oleh faktor genetik alias keturunan dari orangtuanya yang juga bertubuh pendek. Pasalnya, tubuh pendek merupakan salah satu ciri fisik yang mudah diturunkan dari orangtua ke anak.

2. Beda gejala dan kondisinya

nutrisi untuk anak stunting

Dari segi fisik, sekilas tidak ada perbedaan yang cukup signifikan antara anak yang mengalami stunting dan bertubuh pendek biasa. Ini karena baik stunting maupun tubuh pendek sama-sama membuat ukuran tinggi badan cenderung berada di bawah rata-rata, bahkan susah bertambah tinggi.

Namun, ketika dilakukan pemeriksaan saat ini dan masa lampau, tumbuh kembang anak yang mengalami stunting sebenarnya sudah terhambat sejak dulu. Indikator yang biasanya dipakai untuk menilai kemungkinan stunting pada anak, dengan menggunakan tinggi badan berbanding usia (TB/U).

Anak dinyatakan memiliki tubuh stunting saat grafik pertumbuhan tinggi badan sesuai usianya berada di angka kurang dari -2 SD. Secara umumnya, gejala atau tanda-tanda stunting bisa meliputi beberapa hal, seperti:

  • Tinggi badan tidak setara dengan teman-teman seusianya.
  • Berat badan rendah dan sulit naik.
  • Mengalami hambatan pada pertumbuhan tulang.
  • Perkembangan tubuh anak terhambat, misalnya telat mengalami menstruasi untuk pertama kali (menarche).
  • Anak gampang terkena penyakit infeksi.

Ciri itulah yang menjadi perbedaan antara stunting dan pendek biasa pada anak. Jika tubuh anak hanya pendek biasa alias tanpa mengalami stunting, gejalanya tentu berbeda dengan stunting.

Anak yang bertubuh pendek biasa, hanya akan bertubuh pendek. Namun, berat badannya tidak selalu rendah, bahkan bisa saja lebih. Anak juga belum tentu telat saat menstruasi pertama kali, dan ia tidak selalu mudah terserang penyakit infeksi.

Jadi, untuk mengetahui apakah tubuh pendek yang anak Anda alami ini biasa atau mengarah pada stunting, sebaiknya periksakan ke dokter.

3. Beda dampak jangka panjangnya

stunting pada anak

Berdasarkan Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan dari Kemenkes RI, stunting bisa menimbulkan dampak jangka pendek dan panjang. Dalam jangka pendek, stunting bisa menyebabkan anak mudah sakit, serta perkembangan kognitif, motorik, dan verbalnya akan kurang optimal.

Untuk jangka panjangnya, stunting dapat berujung pada risiko postur pertumbuhan anak tidak optimal saat dewasa, maupun meningkatkan kemungkinan mengalami obesitas dan penyakit lainnya.

Bukan itu saja. Stunting nantinya juga bisa berpengaruh pada kesehatan reproduksi, menurunkan kemampuan otak, hingga membuat produktivitas kerja menjadi kurang optimal.

Hal itu juga yang menjadi perbedaan antara anak dengan tubuh pendek biasa dan stunting. Umumnya, anak yang bertubuh pendek tidak terganggu kemampuan otaknya.

Anak yang tubuhnya pendek biasa, dampak jangka panjanganya biasanya hanya akan membuat tinggi badan anak tidak setara dengan teman-temannya.

Selain itu, memang anak memiliki risiko masalah kesehatan tertentu, Namun, tidak berpengaruh pada penurunan kemampuan kognitifnya.

4. Beda penanganannya

anak stunting

Pada anak dengan tubuh pendek biasa, sebenarnya tidak ada upaya khusus yang perlu dilakukan. Hal ini dikarenakan kondisi tubuh anak yang pendek ini pada dasarnya tidak berbahaya atau mengancam kesehatannya.

Perbedaan penanganan inilah yang membuat orangtua perlu mengetahui bahwa stunting dan pendek bisa itu beda. Jika anak mengalami stunting dan terdeteksi sejak dini, orangtua dianjurkan untuk menerapkan pola asuh yang tepat.

Meliputi pemberian ASI esklusif selama 6 bulan penuh, dan makanan pendamping ASI (MPASI) sampai usianya genap 2 tahun. Intinya, anak yang stunting membutuhkan penanganan khusus. Selebihnya, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui perawatan apa saja yang dibutuhkan oleh si kecil.

sumber : hellosehat.com

4 Pilihan Les untuk Balita Sekaligus Manfaatnya

4 Pilihan Les untuk Balita Sekaligus Manfaatnya

Seiring tumbuh kembangnya, balita Anda tentu semakin aktif bergerak dan semakin menunjukkan minat pada banyak hal baru. Bermain di luar dan di dalam rumah merupakan salah satu cara yang baik untuk memfasilitasi perkembangannya. Namun agar aktivitas harian balita Anda bisa lebih bermanfaat, tidak ada salahnya untuk mengikutsertakan si kecil pada macam-macam les. Memangnya, apa saja les yang biasanya dipilih untuk anak usia di bawah lima tahun? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut ini.

Pilihan les terbaik untuk balita, sekaligus manfaatnya

Mengikuti les bisa membuat si kecil jadi lebih aktif. Ini bisa membuat daya tahan tubuhnya jadi lebih kuat, sehingga ia tidak mudah lelah berbagai kegiatan yang nantinya akan ia hadapi ketika bertambah besar.

Menurut laman Kids Health, berkegiatan aktif membantu memperkuat otot dan tulang anak, menurunkan risiko terjadinya penyakit diabetes tipe 2, dan melatih kemampuan motoriknya. Selain itu, beraktivitas fisik rutin mendorong anak-anak untuk bisa lebih percaya diri dan lebih baik dalam bersosialisasi.

Berikut ini beberapa les pilihan sekaligus manfaat bila balita tersayang Anda mengikutinya.

1. Les musik

Terapi Musik untuk Anak ADHD

Anak-anak sangat senang mendengarkan suara dan bunyi-bunyian. Ketertarikan balita pada hal ini bisa mempermudahnya untuk mendaftarkannya pada les musik. Pada kelas ini, si kecil akan dikenalkan dengan berbagai macam lagu dan alat musik mulai dari piano, biola, atau gitar.

Selain menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk si kecil, bermain musik bisa mengasah fungsi otak anak. Anak akan diajari berbagai nada, mengingatnya, dan memainkannya.

Keterampilan anak dalam memainkan musik juga bisa menjadi bekal dirinya dalam meniti karir di masa depan, terutama bila si kecil memang tertarik di dunia musik.

2. Kelas seni

manfaat seni

Selain les musik untuk balita, si kecil juga bisa mengikuti kelas seni. Pada kelas ini, si kecil akan diajari menggambar, melukis, mewarnai, dan membentuk prakarya.

Semua kegiatan tersebut merangsang otak anak untuk berpikir lebih kreatif dan membangun imajinasi anak. Ia dapat mengenal berbagai bentuk, warna, dan memanfaatkan sesuatu untuk dibuat menjadi sebuah karya.

3. Kelas olahraga

agar anak suka olahraga

Les yoga sangat ideal untuk balita usia 3-5 tahun. Pasalnya, pada usia tersebut anak sudah bisa fasih mendengarkan, memahami, dan mengikuti arahan seseorang.

Pada kelas ini, akan ada berbagai jenis olahraga yang diikuti anak, seperti yoga atau menari. Bisa juga olahraga yang mengharuskan anak berbaur dengan seusianya, seperti sepak bola hanya saja dengan aturan permainan yang lebih sederhana.

Les yoga memberikan banyak manfaat, seperti mengajarkan balita untuk terbiasa berolahraga, meningkatkan fleksibilitas gerak tubuh, dan kemampuannya untuk bekerja sama dengan teman seusianya.

4. Kelas renang

anak berenang

Selain kelas olahraga, Anda bisa memilih les renang khusus balita sebagai alternatif untuk meningkatkan aktivitas anak. Anak akan dibimbing dan diawasi oleh pelatih mulai dari latihan pemanasan sebelum berenang, pernapasan di dalam air, dan berbagai gerakan renang.

Lewat les ini, anak bisa mendapatkan manfaat dari berenang, yaitu meningkatkan fungsi jantungnya karena ia perlu berlatih mengatur pernapasan. Ikut latihan renang juga bisa membuat prestasi anak dalam bidang olahraga jadi lebih baik.

Meskipun bermanfaat, perhatikan hal ini

Semua contoh les atau kelas untuk balita yang telah disebutkan memberikan banyak manfaat untuk anak. Namun, Anda tidak boleh memaksakan s kecil untuk mengikuti kegiatan tersebut. Pasalnya, kegiatan yang tidak disenangi anak ini bisa membuatnya frustasi.

Cari tahu penyebab di balik ketidaksukaan anak pada kegiatan tersebut. Jika ini berkaitan dengan kecemasan atau trauma, contohnya takut tenggelam, bicarakan hal ini dengan dokter atau psikolog.

sumber : hellosehat.com

Bermain Bersama Membuat Otak Bayi dan Orangtua Makin Terhubung

Bermain Bersama Membuat Otak Bayi dan Orangtua Makin Terhubung

Baca lebih lanjut

Usia Berapa Anak Mulai Belajar Berlari?

Usia Berapa Anak Mulai Belajar Berlari?

Ketika bayi sudah mampu berdiri dan berjalan sendiri, tentu Anda menanti-nantikan perkembangan motorik menarik lainya yang akan ditunjukkan si kecil. Berlari, misalnya, yang mungkin sebentar lagi akan mulai diperlihatkannya. Sebenarnya, pada usia berapa anak mulai belajar berlari? Berikut ulasan lengkapnya.

Kapan usia anak mulai belajar berlari sendiri?

Kesehatan pencernaan anak

Sejatinya, tubuh manusia memang diciptakan untuk bergerak, tutur Shari Barkin, M.D., selaku dokter anak di Amerika Serikat. Kemampuan tubuh untuk bergerak ini disebut sebagai kemampuan motorik.

Motorik tubuh yang berkerja dengan baik merupakan pertanda bahwa otak, otot, serta saraf di sekujur tubuh dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Salah satu kegiatan yang menunjukkan bahwa kemampuan motorik tubuh bekerja dengan baik, yakni berlari.

Pasalnya, saat berlari tubuh mengombinasikan kerja dari otot, tulang, saraf, dan otak, yang pada akhirnya membentuk suatu gerakan. Selain melatih kemampuan motorik tubuh, belajar berlari juga seolah menjadi tonggak perkembangan lainnya pada anak.

Ya, setelah berhasil menguasi kemampuan menyeimbangkan diri dan berjalan dengan baik, di usia selanjutnya anak akan mulai belajar berlari ke sana kemari. Itulah mengapa penting untuk memperhatikan perkembangan anak setiap saat selama masa tumbuh kembangnya.

Rentang usia anak mulai belajar berlari biasanya sekitar 18-24 bulan. Namun, perlu dipahami bahwa rentang usia anak belajar berlari tersebut hanyalah pedoman umum.

Dengan kata lain, usia anak belajar berlari tidak bisa disamaratakan, karena kemampuan dan perkembangan setiap anak yang tidak selalu sama. Jadi, jika pada rentang usia tersebut anak belum kunjung menunjukkan tanda-tanda mulai mahir berlari sendiri, Anda tak perlu terlalu khawatir.

Perkembangan kemampuan motorik anak mungkin lebih dari rentang usia tersebut. Selama si kecil masih menunjukkan berbagai perkembangan lainnya, tentu tidak masalah.

Sah-sah saja untuk sering mengajak anak berjalan di luar rumah demi melatih kemampuan berlarinya. Akan tetapi, jangan berharap kalau anak akan langsung bisa berlari dengan sendirinya.

Anda mungkin perlu berusaha untuk melatihnya sedikit demi sedikit, sampai si kecil berhasil berlari dengan kemampuannya sendiri.

Bagaimana cara membantu anak belajar berlari?

cara mendidik anak agar mandiri dan berani

Jika anak sudah memasuki usia di mana seharusnya ia mulai belajar berlari, biasanya si kecil akan menunjukkan tanda-tanda siap untuk berlari. Apalagi saat anak sering memperhatikan orang-orang di sekitarnya berlari.

Umumnya, anak menjadi lebih terpacu untuk mencoba dan melatih dirinya agar bisa berlari sendiri. Ditambah ketika anak mulai mahir berjalan, menyeimbangkan diri, membangkitkan dirinya sendiri, otot tubuhnya akan semakin kuat dan siap untuk mengembangkan kemampuan motorik lainnya.

Selain itu, Anda dapat mengajak anak Anda untuk bermain di area yang cukup luas dan aman bagi si kecil. Ajak anak Anda untuk aktif bergerak sesuka hati, tapi tetap dalam pengawasan Anda.

Dalam hal ini, Anda bisa membantu anak untuk belajar berlari dengan mengajarkannya untuk menstabilkan diri selama berjalan. Baik itu dalam gerakan berjalan yang lambat, ataupun cepat.

Saat gerakan anak dalam berjalan semakin lama semakin cepat, biasanya ia mulai mampu berlari sedikit demi sedikit. Pada awal proses belajarnya, Anda dapat mendampingi si kecil sembari memintanya untuk berlari dalam tempo yang pelan atau sedang.

Seiring berkembangnya kemampuan anak, Anda bisa membantu si kecil dengan memberikannya arahan selama belajar berlari. Misalnya dengan memintanya untuk tidak berlari terlalu jauh atau terlalu kencang sebelum anak mulai berlari.

Hal ini perlu dilakukan mengingat si kecil sedang mengasah kemampuan berlarinya, dan mungkin saja tiba-tiba berlari menjauhi Anda dalam waktu singkat.

Perlukah khawatir kalau anak berlari dengan lambat?

Sumber: Stocksy United

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, usia anak belajar berlari bisa berbeda-beda. Maka itu, Anda tidak perlu terlalu khawatir, karena biasanya si kecil akan menunjukkan perkembangannya sendiri.

Salah satu upaya yang bisa Anda lakukan yakni dengan melatih kemampuan motorik anak yang satu ini. Namun, bagaimana apabila kecepatan anak saat berlari tergolong lambat, dan tidak seperti anak seusianya?

Jangan keburu menyimpulkan hal-hal negatif. Coba perhatikan, apakah anak merasa aman berlari di tempat tersebut? Sebab jika anak melihat lingkungan di sekelilingnya tampak kurang nyaman, seperti banyak bebatuan, mungkin ini yang memengaruhi kecepatan berlarinya.

Di sisi lain, kecepatan berlari anak juga bisa dipengaruhi oleh kebiasaannya dalam berlari. Apabila anak sudah cukup terbiasa dan merasa mahir, umumnya ia bisa dengan lincahnya berlari ke mana pun.

Sebaliknya, bila bagi anak ini masih merupakan tahapnya untuk belajar, ia mungkin lebih berhati-hati dan nyaman berlari dalam tempo sedang atau bahkan lambat.

Ini tidak masalah selama memang anak menyukainya. Kuncinya Anda tetap perlu bersabar untuk selalu mengajak anak Anda bergerak aktif hingga bisa berlari.

Meskipun ada kondisi fisik yang bisa menghalangi anak Anda untuk berlari seperti kaki rata atau mengarah ke dalam, hal ini tidak akan menyulitkan anak Anda dalam berlari. Hal ini dijelaskan oleh Sara Hamel, M.D, selaku seorang dokter anak di Children’s Hospital of Pittsburgh, Amerika Serikat.

Namun demikian, Anda tetap perlu mengonsultasikan ke dokter jika terdapat kondisi seperti salah satu sisi tubuh anak Anda yang bergerak lebih baik dibandingkan sisi yang lain, anak Anda sering berjalan dengan berjinjit, dan anak Anda sering berjalan bolak-balik tanpa tujuan.

sumber : hellosehat.com

Berapa Lama Si Kecil Sebaiknya Dijemur dan Kapan Waktu Terbaiknya?

Berapa Lama Si Kecil Sebaiknya Dijemur dan Kapan Waktu Terbaiknya?


Pertanyaan umum yang sering ditanyakan para ibu, berapa lama sebaiknya menjemur bayi? Apakah boleh terkena sinar matahari langsung? Sinar matahari menjadi sumber vitamin D yang baik. Tapi tak setiap matahari bersinar, menjadi waktu terbaik untuk menjemur. 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menjemur bayi, mulai dari jam, lama waktu, serta bagaimana agar si kecil terhindar dari sinar UV.

Berapa lama baiknya menjemur bayi?

Dalam tahap perkembangannya, bayi membutuhkan asupan penting untuk mendukung pertumbuhannya. Asupan tak hanya diperoleh dari makanan, tetapi dari sinar matahari.

Vitamin D yang diperoleh dari matahari membantu kalsium untuk membentuk dan menguatkan tulang serta gigi si kecil. Kurangnya vitamin D dapat meningkatkan risiko rakitis, karena struktur tulang yang lemah. Bila anak sudah terkena rakitis, biasanya ia akan lebih mudah mengalami retak atau patah tulang.

Oleh karenanya, ibu perlu menjemur bayi setiap paginya. Berapa lama baiknya menjemur sang bayi? Melansir What To Expect, bayi perlu dijemur paling tidak 10-15 menit di luar ruangan setiap harinya. 

Jika bayi memiliki kulit yang lebih terang, paling tidak 10 menit saja cukup. Sementara bayi yang memiliki kulit gelap, bisa dijemur lebih dari 10 menit.

Saat menjemur, bayi butuh perlindungan lainnya

Kini sudah tahu berapa lama idealnya menjemur bayi di bawah sinar matahari. Selanjutnya, ada proteksi wajib yang perlu ibu terapkan saat si kecil menikmati mentari pagi.

Saat menjemur, jangan lupa kenakan topi pada si kecil untuk melindungi kepala dan wajahnya. Pasalnya, tubuh akan menyerap vitamin D melalui kaki dan tangannya. Selain itu, gunakan juga kacamata untuk bayi untuk melindungi mata dari sinar UV.

Sama seperti orang dewasa, Anda juga perlu mengaplikasikan sunscreen kepada bayi. Pilih produk sunscreen yang aman untuk bayi dengan kandungan SPF 15 atau sedikit lebih tinggi. Aplikasikan sunscreen paling tidak 30 menit sebelum bayi dijemur di bawah sinar matahari.

Untuk bayi di bawah usia 6 bulan, ada baiknya  tidak dijemur pada sinar matahari langsung selama 15 menit. Karena bayi usia tersebut belum direkomendasikan penggunaan sunscreen.

Waktu terbaik dan perlindungan lainnya yang wajib ibu ketahui saat menjemur si kecil

Sekarang ibu sudah tahu berapa lama baiknya bayi dijemur dan menggunakan sunscreen, ketahuilah bahwa ada jam-jam matahari yang “ramah” untuk memberikan asupan si kecil. 

Hindari sinar matahari langsung  terutama pada jam 10.00-16.00 saat menjemur bayi. Apabila Anda ingin membawa bayi keluar rumah, berjalanlah di bawah bayangan pohon, kenakan pakaian yang melindungi kulitnya (lengan panjang dan celana panjang), gunakan topi dengan tepian lebar. 

Mungkin saja ada sebagian ibu tak mengetahui berapa lama bayi perlu dijemur, kapan waktu yang tepat untuk menjemurnya, atau proteksi yang perlu digunakan. Pasalnya, eksposur sinar matahari dapat melimpahkan radiasi pada kulit bayi. Hal ini menimbulkan implikasi risiko kanker kulit dan kulit terbakar. 

Sebuah penelitian juga mengungkapkan ketidaktahuan ibu akan pentingnya sinar matahari, memiliki dampak kesehatan bagi bayi mereka. 

Sinar matahari mampu memulihkan bayi yang lahir kuning, ruam popok, serta mencegah kekurangan vitamin D, seperti hipertensi, gangguan kardiovaskular, serta penyakit tulang.

Oleh karena itu, kini ibu perlu menerapkan ketiga hal di atas saat menjemur kecil di bawah sinar matahari. Karena apa yang dilakukan kini tentu akan memberikan kebaikan kesehatan untuk anak di masa yang akan datang.

sumber : hellosehat.com

Anak Cuma Mau Makan Pasta, Apakah Baik Bagi Kesehatannya?

Anak Cuma Mau Makan Pasta, Apakah Baik Bagi Kesehatannya?

Pasta kerap menjadi pilihan praktis orangtua untuk memenuhi kebutuhan nutrisi buah hatinya di tengah kesibukan. Hal ini tidak mengherankan, mengingat anak bisa memperoleh asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, dan kandungan nutrisi lainnya dengan makan seporsi pasta.

Meski demikian, apakah menyehatkan bila anak hanya makan pasta setiap hari?

Apakah pasta menyehatkan bagi anak?

resep pasta untuk anak

Pasta adalah sumber karbohidrat yang terbuat dari gandum kaya protein, air, dan terkadang telur. Seiring meningkatnya selera masyarakat, sebagian besar jenis pasta kini dibuat dari gandum biasa, jelai (barley), atau soba (buckwheat).

Pasta pada dasarnya cukup kaya akan nutrisi. Sebagai gambaran, satu porsi spageti matang tanpa topping seberat 140 gram mengandung 221 kalori, 1,3 gram lemak, 8 gram protein, 43 gram karbohidrat, 2,5 gram serat, serta vitamin dan mineral.

Itu baru pasta polos tanpa bahan tambahan. Jika anak makan pasta dengan ayam, minyak zaitun, sayuran, keju, atau bahan lainnya, nilai nutrisinya tentu lebih besar lagi. Dengan kata lain, Anda bisa mengatur kandungan nutrisi pasta sesuai selera.

Satu hal yang menjadi perhatian adalah pasta yang kini banyak dikonsumsi merupakan pasta olahan. Biji-bijian yang menjadi bahan bakunya tidak lagi memiliki lapisan kulit ari. Dampaknya, serat dan nutrisi pasta olahan lebih rendah, tapi kalorinya tetap tinggi.

Rendahnya kandungan serat pada pasta olahan akan membuat anak susah merasa kenyang. Karbohidrat sederhana pada pasta olahan juga cepat dicerna sehingga anak lebih cepat lapar. Akibatnya, anak mungkin lebih sering makan dengan porsi besar.

Apakah anak boleh sering makan pasta?

resep membuat pasta

Orang dewasa perlu membatasi asupan karbohidrat sederhana seperti yang terdapat pada pasta dan makanan manis. Pasalnya, karbohidrat sederhana berkaitan erat dengan meningkatnya risiko obesitas, penyakit jantung, serta diabetes.

Walau demikian, hal ini tidak selalu berlaku pada anak-anak. Anak-anak membutuhkan banyak kalori dan nutrisi selama masa pertumbuhan, termasuk karbohidrat sederhana.

Makan pasta dapat mendukung pertumbuhan anak dengan cara berikut:

1. Membuat anak yang pilih-pilih makanan lebih suka makan

Anda bisa mengolah pasta dengan berbagai bahan sehingga anak yang suka pilih-pilih makanan sekalipun akan menyukainya. Tanyakan si kecil apa makanan favoritnya. Olah bersama pasta dan Anda akan membuatnya lebih suka makan.

2. Sumber energi dan karbohidrat yang besar

Karbohidrat akan memberikan banyak energi, dan inilah yang Anda cari dari makanan untuk masa pertumbuhan anak. Agar kebutuhan seratnya juga terpenuhi, coba selingi makanan anak dengan pasta dari tepung gandum utuh (whole-grain pasta).

3. Sumber protein untuk tumbuh-kembang anak

Makan pasta tidak hanya memberikan anak energi dan karbohidrat, tapi juga protein. Seporsi pasta bahkan sudah memenuhi lebih dari 30 persen kebutuhan protein anak dalam sehari. Protein amat penting untuk pertumbuhan tubuh dan otak buah hati Anda.

Tips agar pasta semakin menyehatkan bagi anak

pasta untuk anak

Anak boleh saja sering memakan pasta asalkan dilengkapi dengan bahan-bahan kaya nutrisi. Melansir hasil penelitian oleh Nutritional Strategies, Inc. pada laman Pasta Fits, konsumsi pasta dapat memenuhi kebutuhan beragam nutrisi anak.

Agar pasta yang Anda buat lebih menyehatkan, coba lakukan tips berikut:

  • Mencampurkan pasta olahan dengan pasta gandum utuh.
  • Menambahkan tomat, jamur, bawang putih, alpukat, dan paprika.
  • Menambahkan sumber protein seperti ayam, daging sapi, ikan, telur, dan keju.
  • Menggunakan minyak yang lebih sehat seperti minyak zaitun atau minyak kanola.
  • Menambahkan kacang-kacangan atau biji-bijian.

Pasta adalah sumber makanan kaya energi dan karbohidrat. Orang dewasa memang perlu membatasi konsumsi pasta. Namun, bagi anak yang menjalani masa pertumbuhan, makan pasta adalah salah satu cara menyenangkan mencukupi kebutuhan nutrisi harian.

sumber : hellosehat.com

7 Kondisi yang Membuat Bayi Perlu Diberikan Susu Formula

7 Kondisi yang Membuat Bayi Perlu Diberikan Susu Formula

ASI memang jadi nutrisi terbaik untuk bayi. Namun, kondisi kesehatan tertentu membuat ibu mau tidak mau terpaksa memberikan susu formula kepada sang buah hati. Kondisi apa saja yang membuat pemberian susu formula pada bayi menjadi langkah yang harus diambil?

Mengetahui ragam kondisi untuk pemberian susu formula pada bayi

Pemberian ASI pertama kali saat bayi baru lahir merupakan momen terpenting bagi bayi dan ibu. Kolostrum, yakni ASI pertama yang diterima bayi dapat membantu pembentukan antibodi. Dengan begitu, tubuh bayi mampu melawan infeksi.

ASI eksklusif tentu menjadi dambaan bagi hampir setiap ibu, terlebih jika mampu memberikannya hingga usia 2 tahun. Namun, beberapa kasus kesehatan tertentu, pemberian susu formula direkomendasikan pada bayi.

Berikut kondisi yang diperlukan pemberian susu formula pada bayi.

1. Bayi dengan galaktosemia

Ada beberapa bayi yang terlahir dengan galaktosemia pada kasus yang jarang. Ini merupakan kondisi metabolik yang membuat tubuh bayi tidak dapat memproses galaktosa (komponen gula di dalam ASI maupun susu formula) menjadi energi dalam tubuhnya.

JIka tidak segera ditangani, anak bisa mengalami gangguan perkembangan, katarak, gangguan liver, dan ginjal.

Salah satu solusi untuk menangani kondisi ini pada bayi adalah dengan pemberian susu formula berbahan soya, diikuti dengan pengobatan lainnya.

ASI mengandung laktosa tinggi sehingga bayi harus disapih, diberi susu tanpa laktosa. Selanjutnya, anak Anda perlu dilatih untuk menjalani pola makan (diet) tanpa galaktosa sepanjang hidupnya.

2. Penyakit maple syrup urine

Pemberian susu formula juga disarankan pada bayi dengan penyakit maple syrup urine. Kondisi ini membuat tubuh tak mampu memproses asam amino secara sempurna. Biasanya, hal ini ditandai dengan aroma manis yang keluar dari urine bayi.

3. Fenilketonuria

Fenilketonuria merupakan kelainan yang jarang ditemui diakibatkan oleh kelainan gen. Kondisi ini menyebabkan fenilalanin menumpuk di dalam tubuh. Pemberian susu formula untuk bayi dengan kondisi ini biasanya dilakukan secara selang-seling dengan ASI.

Bayi dengan kondisi ini masih bisa mendapatkan ASI karena kadar fenilalanin ASI rendah dan disertai dengan pemantauan ketat kadar fenilalanin dalam darah.

4. Bayi prematur

Bayi yang prematur membutuhkan lebih banyak kalori, lemak, serta protein, dibandingkan bayi yang cukup bulan. Meskipun ASI prematur memiliki ketiga komponen yang dibutuhkan si kecil, ASI ini belum seoptimal pada ASI matur. Dibutuhkan waktu 3-4 minggu untuk mencapai ASI matur.

Oleh karenanya, pemberian susu formula disarankan pada bayi yang lahir prematur, dengan usia kurang dari 32 minggu dan berat kurang dari 1,5 kg. 

5. Bayi yang berisiko hipoglikemia

Hipoglikemia terjadi ketika gula darah (glukosa) di bawah angka normal. Glukosa dibutuhkan untuk mengisi energi untuk otak dan tubuh.

Kondisi ini sangat mungkin bagi bayi yang baru lahir. Hal ini dapat menyebabkan kondisi bayi gemetaran, kulit berwarna biru pucat, kesulitan bernapas, dan kesulitan mencerna makanan.

Pada bayi yang berisiko hipoglikemia, penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian susu formula sedini mungkin. Cara lain yang bisa dilakukan dengan pemberian glukosa melalui infus.

6. Hiperbilirubinemia

Hal ini terjadi karena ASI ibu belum banyak diproduksi dan bayi belum menyusui secara efektif. Biasanya hal ini ditandai dengan kulit bayi berwarna kuning dan bilirubin yang lebih dari 20,25 mg/dL pada bayi yang lahir cukup bulan.

Cobalah menghentikan ASI 1-2 hari, sambil sementara diberi susu formula. Jika bilirubin menurun, pemberian ASI dapat dimulai kembali.

7. Kondisi lainnya

Ada beberapa kondisi lainnya yang mengharuskan pemberian susu formula pada bayi. Misalnya, bayi yang bergejala dehidrasi.

Bayi dengan kondisi ini ditandai dengan BAB yang lambat keluar atau masih mekonium (feses pertama), sekalpun bayi sudah berusia lebih dari 5 hari.

Kondisi lain yang memerlukan pemberian susu formula pada bayi, ketika beratnya turun 8-10%, sebab ibu mengalami laktogenesis atau produksi ASI yang lambat. 

Ibu yang terpisah dari bayi, ataupun bayi yang memiliki kelainan kongenital (seperti bibir sumbing) juga bisa menjadi dasar untuk pemberian susu formula pada bayi.

Namun, pemberian susu formula pada bayi, ada baiknya mendapatkan saran dari dokter anak. Anda sebaiknya mengikuti anjuran yang diberikan dokter anak terkait aturan pemberian susu formula. Dengan begitu, tumbuh kembangnya dapat lebih optimal.

sumber : hellosehat.com

Anak Kerokan Saat Masuk Angin, Amankah?

Anak Kerokan Saat Masuk Angin, Amankah?

Banyak orang mengandalkan kerokan ketika mereka masuk angin. Tak hanya orang dewasa, orangtua pun kadang membiarkan anak-anak mereka yang masuk angin meredakan gejala dengan kerokan. Namun, apakah kerokan pada anak aman dilakukan? Simak ulasannya berikut ini.

Amankah kerokan pada anak-anak?

Masuk angin sebenarnya adalah kondisi yang ditandai dengan munculnya sejumlah gejala, seperti demam, badan pegal, perut mual dan kembung, hingga hidung mampet.

Rasa “tak enak badan” akibat masuk angin ini disinyalir karena terlalu banyak angin yang masuk ke tubuh. Kerokan menjadi salah satu cara yang umum, baik untuk dewasa maupun anak, untuk meredakannya.

Menurut dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, seperti dikutip dari laman Vice Indonesia, kerokan menyebabkan sugesti nyaman pada seseorang. Itu sebabnya, banyak yang percaya bahwa rasa “tak enak badan” bisa sembuh dengan kerokan.

Dalam dunia kedokteran sendiri, kerokan pada anak ataupun orang dewasa diperbolehkan. Namun, Prof. Dr. dr. Didik Gunawan Tamtomo, PAK, MM, MKes dalam artikel yang dipublikasikan detikHealth menyebut ada hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan kerokan pada anak.

Guru besar Fakultas Kedokteran Unversitas Negeri Sebelas Maret itu menyebut bahwa bayi dan balita tak boleh dikerok dengan gesekan terlalu kuat. Alasannya, jaringan kulit pada anak-anak, terutama bayi dan balita masih lemah dan rentan.

Solusinya, Prof. Didik menyarankan untuk menggunakan irisan bawang merah ketika saat ingin melakukan kerokan pada anak-anak.

Hal ini untuk menghindari rasa sakit dan iritasi pada kulit akibat goresan koin, benda yang biasa digunakan untuk kerokan.

Kerokan dengan bawang merah, menurut Prof, Didik, memberikan efek vasodilatasi, yaitu melancarkan peredaran darah dan efek menenangkan. Hal itu lah yang membuat banyak orang percaya dengan “khasiat” kerokan bawang merah.

Cara lain mengatasi masuk angin pada anak-anak

Masuk angin pada umumnya punya gejala yang sama dengan flu, seperti badan pegal, sakit kepala, hingga demam.

Kids Health menyebutkan bahwa Anda bisa memberikan acetaminophen atau ibuprofen untuk mengatasi gejala tersebut. Namun, pastikan takarannya telah menyesuaikan dengan usia dan berat badan anak.

Selain melakukan kerokan pada anak-anak, beberapa cara lain yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi rasa tak nyaman akibat masuk angin, yaitu:

  • Masukkan air garam (saline wash) ke dalam lubang hidung untuk mengurangi hidung tersumbat.
  • Gunakan cool-mist humidifier untuk meningkatkan kelembapan udara.
  • Oleskan petroleum jelly di bawah hidung untuk meredakan hidung mampet.
  • Berikan permen tenggorokan untuk meredakan sakit tenggorokan (hanya untuk anak di atas 6 tahun).
  • Gunakan air hangat saat mandi untuk meredakan pegal-pegal.
  • Mandi air panas untuk membuat kamar mandi beruap yang dapat membantu anak bernapas dengan lega.

Selain kerokan, Anda juga bisa memberikan sup ayam hangat untuk anak saat ia masuk angin.

Bukti secara ilmiah soal khasiat sup ayam dalam mengobati flu memang belum ada, tapi makanan itu telah digunakan secara turun-temurun untuk meredakan rasa “tak enak badan”.

Sup ayam mengandung asam amino penipis lendir yang disebut sistein. Sebuah penelitian yang dipublikasikan CHEST juga menyebutkan bahwa sup ayam menyebabkan efek anti-peradangan yang bisa mengurangi infeksi saluran pernapasan bagian atas yang merupakan gejala flu biasa.

sumber : hellosehat.com

Our Brands