News

Bunda, Kenali Tanda-Tanda Bayimu Alergi Susu Sapi

Bunda, Kenali Tanda-Tanda Bayimu Alergi Susu Sapi

Bunda, Kenali Tanda-Tanda Bayimu Alergi Susu Sapi

 

Jika alergi susu sapi, bayi sering kali akan muntah atau diare setelah minum susu formula atau susu sapi. Namun, bukan hanya itu gejalanya. Ada gejala atau tanda-tanda lain yang bisa muncul pada bayi yang alergi terhadap susu sapi.

Alergi susu sapi merupakan salah satu jenis alergi makanan yang paling banyak menimpa bayi. Risiko bayi mengalami alergi akan lebih tinggi jika salah satu atau kedua orang tuanya juga memiliki riwayat alergi.

Bunda, Kenali Tanda-Tanda Bayimu Alergi Susu Sapi - Alodokter

Selain saat minum susu formula langsung, Si Kecil juga bisa menunjukkan reaksi alergi ketika ia mengonsumsi produk olahan susu sapi atau minum ASI dari ibu yang mengonsumsi susu sapi.

Alergi susu sering kali disamakan dengan intoleransi laktosa karena gejala kedua kondisi ini memang mirip. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang sangat berbeda.

Alergi susu sapi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bayi bereaksi berlebihan terhadap protein dalam susu, sedangkan intoleransi laktosa terjadi ketika bayi sulit mencerna laktosa (gula alami pada susu).

Kenali Tanda-Tanda Bayi Alergi Susu Sapi

Saat Si Kecil mengalami alergi susu sapi, ia akan menunjukkan beberapa gejala berikut ini:

  • Gangguan pencernaan, seperti kram atau nyeri perut, muntah,  perut kembung, dan diare.
  • Gatal dan ruam di kulit.
  • Bengkak-bengkak di bagian tubuh tertentu.
  • Batuk-batuk.
  • Hidung meler.
  • Mata berair.
  • Rewel atau sering menangis.

Setiap bayi yang mengalami alergi susu sapi bisa menunjukkan gejala yang berbeda. Gejala bisa muncul dengan cepat dalam hitungan menit setelah minum susu sapi, namun bisa juga muncul beberapa jam sesudahnya.

Walaupun jarang terjadi, beberapa bayi dan anak-anak dapat mengalami reaksi alergi parah (anafilaksis) yang ditandai dengan sesak napas, pingsan, dan pembengkakan di lidah, bibir, atau tenggorokan.

Lakukan Ini saat Bayi Alergi Susu Sapi

Cara termudah dan terbaik untuk mencegah bayi yang alergi susu sapi mengalami alergi alergi adalah memberikan ASI selama enam bulan pertama hidupnya (ASI eksklusif).

Saat menyusui Si Kecil, disarankan untuk tidak mengonsumsi asupan yang berasal dari susu sapi dan olahannya, seperti keju dan yoghurt, sebab selama masih menyusui, apa pun yang Bunda konsumsi akan memengaruhi kandungan ASI Bunda.

Sedangkan jika Bunda memberikan susu formula untuk Si Kecil, pilihlah susu bertuliskan hypoallergenic yang sudah dibuat khusus untuk mengurangi risiko alergi. Bunda juga bisa memberikan Si Kecil susu formula dari kacang kedelai.

Namun, tetap perhatikan apakah Si Kecil cocok dengan jenis susu yang diberikan, karena beberapa bayi yang alergi susu sapi juga mungkin alergi terhadap kedelai.

Jika alergi susu sapi yang dialami oleh Si Kecil menyebabkan berat badannya sulit naik, sulit mendapatkan asupan makanan yang sehat, sangat sering kambuh, atau muncul reaksi anafilaksis, segeralah bawa Si Kecil ke dokter anak untuk mendapatkan penanganan dan saran lebih lanjut dari dokter.

 

sumber: alodockter.com

Penanganan Herpes pada Bayi Sebaiknya Jangan Ditunda

Penanganan Herpes pada Bayi Sebaiknya Jangan Ditunda

Penanganan Herpes pada Bayi Sebaiknya Jangan Ditunda

 

 

Herpes pada bayi akan menyebabkan munculnya luka yang melepuh pada mulut dan sekitar bibir bayi atau di bagian tubuhnya yang lain. Lepuhan ini akan terasa menyakitkan dan bisa membuat bayi rewel. Jika Si Kecil mengalami herpes, Bunda sebaiknya segera memeriksakannya ke dokter.

Penyakit herpes pada bayi disebabkan oleh virus herpes simpleks. Jenis virus herpes yang paling sering menyebabkan herpes pada bayi adalah virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1), tetapi kadang virus herpes simpleks tipe 2 juga bisa menyerang bayi.

Penanganan Herpes pada Bayi Sebaiknya Jangan Ditunda - Alodokter

Penularan virus HSV ini dapat terjadi melalui kontak kulit, air liur, atau saat Si Kecil menyentuh benda yang telah terkontaminasi virus herpes. Virus herpes juga dapat dengan mudah menular ketika bersentuhan dengan lepuh penderita herpes, misalnya pada kulit atau bibirnya.

Inilah alasan Bunda tidak dianjurkan membiarkan Si Kecil dicium oleh sembarang orang.Selain itu, bayi juga berisiko tertular virus herpes dari ibu yang menderita herpes genital saat proses persalinan.

Gejala Herpes pada Bayi Baru Lahir

Gejala herpes umumnya ditandai dengan luka melepuh di sekitar mulut, hidung, pipi, dan dagu. Setelah beberapa hari, luka ini akan pecah, kemudian membentuk kerak dan sembuh dalam 1–2 minggu.

Selain itu, herpes pada bayi juga bisa menyebabkan beberapa gejala berikut ini:

  • Demam
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Rewel dan sering menangis
  • Kurang mau makan atau minum
  • Gusi bengkak
  • Air liur menetes
  • Kulit dan matanya tampak kuning
  • Lemas dan kurang responsif ketika dipanggil atau diajak bermain
  • Muncul ruam dan luka melepuh di kulit

Biasanya luka melepuh akibat herpes ini bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 2 minggu. Namun, saat bayi mengalami luka melepuh akibat herpes, ia akan merasa kesakitan dan rewel serta kurang mau makan dan minum. Hal ini membuat bayi rentan mengalami dehidrasi.

Jika tidak diobati, herpes pada bayi juga bisa menyebabkan gangguan pada pernapasan, otak, atau sistem sarafnya. Oleh karena itu, Bunda perlu segera memeriksakan Si Kecil ke dokter jika ia menunjukkan gejala-gejala herpes.

Herpes pada Bayi Dapat Berbahaya

Tanpa penanganan yang tepat dan sedini mungkin, virus herpes dapat dengan mudah menyebar ke organ tubuh lain, seperti mata, paru, ginjal, hati, dan otak bayi.

Jika penyakit herpes sudah menyerang berbagai organ, maka bayi dapat mengalami gangguan kesehatan yang sangat serius, seperti kejang, penurunan kesadaran, sesak napas, kebutaan, hingga radang otak (ensefalitis). Infeksi virus herpes juga berisiko tinggi mengancam nyawa bayi.

Oleh karena itu, herpes pada bayi perlu segera mendapatkan penanganan dari dokter. Penanganan yang dilakukan oleh dokter umumnya bertujuan untuk meringankan gejala dan membantu proses pemulihan herpes pada bayi serta mencegah terjadinya komplikasi yang berbahaya.

Langkah Penanganan dan Pencegahan Herpes pada Bayi

Untuk menangani herpes pada bayi, dokter dapat memberikan obat antivirus, seperti acyclovir, melalui infus. Bayi juga akan diberikan asupan cairan melalui infus untuk mengatasi atau mencegah dehidrasi.

Selain itu, dokter juga mungkin akan memberikan bantuan pernapasan dan oksigen jika bayi sulit bernapas.

Sementara pada ibu hamil yang menderita herpes genital, dokter mungkin akan menyarankan persalinan caesar untuk mencegah penularan virus herpes kepada bayinya melalui jalan lahir. Ibu hamil yang terinfeksi virus herpes juga mungkin akan diberikan pengobatan dengan antivirus.

Jika Bunda atau anggota keluarga lainnya ada yang menunjukkan gejala herpes, lakukanlah upaya berikut ini untuk mengurangi risiko penularan herpes pada bayi:

  • Hindari mencium bayi.
  • Cuci tangan hingga bersih setiap ingin menyentuh bayi.
  • Bersihkan payudara lebih dahulu sebelum menyusui bayi.
  • Tutup luka yang melepuh di kulit atau bibir dengan kasa steril.

Herpes pada bayi tidak bisa disepelekan. Semakin muda usia bayi saat terkena herpes, semakin tinggi risiko terjadinya penyebaran infeksi ke berbagai organ yang dapat berakibat fatal.

Oleh karena itu, segeralah periksakan Si Kecil ke dokter anak bila ia menunjukkan gejala-gejala herpes. Dengan penanganan secara dini dari dokter, risiko Si Kecil untuk mengalami komplikasi berbahaya akibat herpes bisa diminimalkan.

 

sumber : alodokter.com

Hati-hati, Ini Bahayanya bila Bayi Sering Dicium

Hati-hati, Ini Bahayanya bila Bayi Sering Dicium

Hati-hati, Ini Bahayanya bila Bayi Sering Dicium

 

Siapa yang tidak gemas melihat bayi mungil dan lucu? Karena ingin menunjukkan rasa sayang, banyak orang yang senang memeluk dan mencium bayi. Meski demikian, ternyata hal ini tidak baik dilakukan, lho. Pasalnya, jika bayi sering dicium, maka ia akan lebih rentan terkena penyakit infeksi.

Berbeda dengan orang dewasa, bayi memiliki daya tahan tubuh yang masih lemah. Hal ini membuat tubuh bayi rentan terinfeksi kuman dan virus yang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

Hati-hati, Ini Bahayanya bila Bayi Sering Dicium - Alodokter

Hati-hati bila Bayi Dicium

Kuman dan virus penyebab penyakit infeksi bisa menetap di bagian tubuh mana pun, tak terkecuali hidung dan mulut. Saat bayi dicium, kuman dan virus tersebut akan berpindah ke mulut dan wajah bayi, sehingga menyebabkan bayi lebih berisiko terserang penyakit apabila ia sering dicium.

Beberapa penyakit infeksi yang berisiko terjadi pada bayi yang sering dicium meliputi:

1. Herpes simpleks

Salah satu penyakit yang bisa menimpa Si Kecil jika ia dicium oleh orang lain adalah penyakit herpes yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 (HSV 1).

Herpes pada bayi dapat menyebabkan Si Kecil mengalami beberapa gejala, seperti:

  • Lebih rewel atau tampak kesakitan.
  • Muncul luka dan lepuhan serta ruam pada bibir dan kulit di sekitarnya.
  • Demam.
  • Kurang mau menyusui atau makan.
  • Gusi merah dan bengkak.
  • Muncul benjolan di leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening.

Jika Bunda mendapati adanya tanda gejala tersebut pada bayi, segeralah bawa Si Kecil ke dokter agar lekas mendapat penanganan. Jika penanganan tidak segera dilakukan, akan semakin besar risiko virus HSV menyebar ke bagian tubuh lain dan menimbulkan komplikasi serius, seperti gangguan penglihatan, herpes genital, dan kerusakan otak.

Untuk menangani penyakit ini, dokter biasanya meresepkan obat-obatan antivirus. Setelah kondisi berhasil ditangani, Bunda dianjurkan untuk tetap periksakan kondisi kesehatan Si Kecil secara rutin ke dokter. Hal ini dikarenakan bayi yang pernah terkena herpes bisa mengalami kekambuhan di kemudian hari.

2. Kissing disease (mononukleosis)

Bayi yang sering dicium bisa terkena penyakit yang disebut mononukleosis. Virus Epstein-Barr merupakan penyebab penyakit ini. Karena virus ini terdapat pada liur, maka penularannya tak hanya terjadi ketika seseorang yang terinfeksi mencium bayi, tapi juga saat orang tersebut batuk atau bersin di dekatnya.

Bayi yang menderita penyakit ini akan menunjukkan tanda dan gejala berupa:

  • Demam.
  • Tampak lemas dan kurang mau bermain.
  • Rewel karena kesakitan.
  • Ruam kulit.
  • Kurang mau makan atau menyusui.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.

Apabila Bunda menyadari bahwa Si Kecil mengalami gejala-gejala kissing disease, secepatnya temui dokter untuk mendapat pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut. Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, bayi bisa berisiko tinggi untuk terkena sejumlah komplikasi serius, seperti pembesaran limpa, penyakit kuning, dan kerusakan organ hati.

3. Sariawan karena infeksi jamur Candida (thrush)

Jamur Candida adalah mikroorganisme normal yang menumpang hidup di dalam mulut, kulit, dan saluran pencernaan setiap orang dewasa. Saat seseorang mencium bayi, maka jamur ini bisa berpindah ke dalam mulut bayi

Jika hal ini terjadi, maka bayi yang sering dicium tersebut akan rentan mengalami sariawan mulut akibat infeksi jamur Candida.

Bayi yang terkena infeksi jamur di mulutnya akan mengalami tanda gejala berupa muncul bercak-bercak atau lapisan putih di dalam mulut, lidah, langit-langit, serta gusinya, sudut mulut bayi tampak kering dan pecah-pecah, rewel, dan kurang mau menyusui karena mulutnya terasa perih.

Untuk mengobatinya, diperlukan pemberian obat antijamur yang bisa didapatkan dari resep dokter. Jika bayi diberi ASI, maka pemberian ASI bisa dilanjutkan.

4. Meningitis bakteri

Meningitis yang diakibatkan oleh infeksi bakteri merupakan kondisi serius yang dapat membahayakan nyawa bayi. Saat terkena meningitis, bayi akan menunjukkan gejala-gejala berupa:

  • Lemas dan tidak aktif bergerak.
  • Demam.
  • Kejang.
  • Leher kaku.
  • Muntah-muntah dan tidak mau makan atau menyusui.
  • Cenderung tertidur dan sulit dibangunkan.

Bayi yang terkena meningitis bakteri perlu mendapatkan penanganan dari dokter anak di rumah sakit secepat mungkin. Penyakit ini membutuhkan pengobatan dengan antibiotik yang diberikan melalui suntikan lewat infus. Jika kondisi bayi sudah parah, ia akan membutuhkan perawatan di ruang PICU.

Apabila terlambat ditangani, bayi yang terkena meningitis bakteri bisa mengalami komplikasi fatal, seperti sepsis dan kerusakan otak permanen. Kerusakan otak ini bisa menyebabkan bayi mengalami cacat, misalnya kehilangan fungsi pendengaran, gangguan tumbuh kembang, maupun lumpuh.

5. ISPA

Risiko lain yang dapat menimpa bayi jika sering dicium adalah terkena ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut. Penyakit ISPA paling sering disebabkan oleh infeksi virus, namun terkadang juga bisa disebabkan oleh bakteri.

Sama seperti beberapa kondisi di atas, virus atau bakteri penyebab ISPA juga terkandung di air liur dan dapat ditularkan tak hanya saat mencium bayi, tapi juga saat orang tersebut batuk atau bersin di dekat bayi.

Bayi yang terserang ISPA akan mengalami beberapa gejala, seperti batuk pilek, sering bersin, demam, sesak napas disertai napas berbunyi, tampak lemas, dan kurang mau menyusui atau makan.

Jika disebabkan oleh infeksi virus, maka ISPA pada bayi dapat membaik dengan sendirinya. Namun jika disebabkan oleh bakteri, maka penyakit ini perlu diobati dengan antibiotik. Selama pemulihan, pastikan bayi cukup minum ASI atau makan guna mencegah dehidrasi.

Karena ada banyak bahaya yang dapat menimpa bayi jika ia sering dicium, maka mulai sekarang hindarilah untuk mencium bayi atau membiarkan bayi dicium oleh orang lain. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesehatan Si Kecil.

Jika ingin menyentuh bayi, pastikan Anda sudah mencuci tangan hingga bersih dengan air dan sabun atau hand sanitizer sebelum memegang dan menggendong bayi. Selain itu, jangan lupa pula untuk menepati jadwal vaksinasi bayi, dan periksakan kesehatannya secara rutin ke dokter anak.

 

 

sumber : alodckter.com

Ini Cara Ampuh Mengatasi Ketombe pada Anak

Ini Cara Ampuh Mengatasi Ketombe pada Anak

Ini Cara Ampuh Mengatasi Ketombe pada Anak

Meski bukan masalah medis yang serius, ketombean bisa membuat anak tidak percaya diri dan bahkan menghambat aktivitasnya. Nah, tidak perlu risau, Bun. Ada beberapa cara yang bisa diterapkan untuk mengatasi keluhan ini. Yuk, perhatikan langkah-langkahnya!

Ketombe merupakan hal yang wajar terjadi, terutama saat anak mulai memasuki usia pubertas. Ketombe pada anak bisa menimbulkan rasa gatal yang membuat ia ingin terus menggaruk kepalanya. Hal ini bisa membuat kulit kepalanya memerah dan terasa sakit. Bila tidak diatasi, ketombe bahkan bisa menyebabkan kerontokan rambut.

Ini Cara Ampuh Mengatasi Ketombe pada Anak - Alodokter

Langkah Tepat Mengatasi Ketombe pada Anak

Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab munculnya ketombe pada anak. Ketombe biasanya muncul bila anak:

  • Kurang terjaga kesehatan rambutnya
  • Memiliki kulit kepala yang cenderung kering
  • Menggunakan produk perawatan rambut yang tidak cocok dengan kulit kepalanya
  • Memiliki penyakit kulit tertentu, seperti eksim, psoriasis, dan infeksi jamur

Berikut ini adalah langkah yang bisa Bunda terapkan untuk mengatasi ketombe yang membandel di kepala Si Kecil:

1. Cuci rambut anak secara teratur

Jika tergolong ringan, masalah ketombe pada anak biasanya bisa membaik dengan mencuci rambut setiap 2 hari sekali. Tujuannya adalah untuk mengurangi minyak di kulit kepala dan membersihkan ketombe agar tidak menumpuk. Gunakan sampo dengan formulasi ringan, ya, Bun.

Selagi mencuci rambutnya, ajari Si Kecil cara memijat kepalanya sendiri dengan lembut saat keramas. Dengan begitu, Si Kecil bisa membiasakan diri untuk membersihkan rambutnya secara mandiri. Ajarkan pula ia cara membilas rambutnya hingga benar-benar bersih.

2. Gunakan obat ketombe

Bila sampo saja tidak cukup untuk mengatasi ketombe Si Kecil, Bunda bisa menggunakan sampo yang mengandung obat antiketombe, seperti selenium sulfida, zinc, atau ketoconazole. Sampo ini biasanya bisa dibeli di apotek.

Saat mencuci rambut anak dengan sampo ini, diamkan busa sampo di kulit kepalanya selama 5 menit sebelum dibilas. Umumnya, obat ketombe pada anak bisa digunakan setiap hari. Bila ketombe sudah membaik, kurangi penggunaan menjadi 2 kali dalam seminggu atau gunakan selang-seling dengan sampo biasa.

Untuk mendapatkan hasil terbaik, baca terlebih dahulu petunjuk pemakaian sampo antiketombe dengan saksama, ya, Bun. Masing-masing sampo biasanya memiliki aturan pemakaian yang berbeda, tergantung pada bahan aktif yang dikandungnya.

3. Oleskan tea tree oil

Minyak pohon teh atau tea tree oil memiliki sifat antibakteri dan antiradang. Sampo yang mengandung minyak ini terbukti dapat meringankan masalah ketombe pada anak. Namun, keamanannya pada anak usia di bawah 14 tahun belum bisa dipastikan.

Bila Bunda ingin menggunakan tea tree oil untuk mengatasi ketombe Si Kecil, campur minyak ini dengan air dan oleskan ke kulit kepalanya beberapa kali seminggu. Namun, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter sebelum memakaikan minyak ini pada Si Kecil.

4. Perbanyak konsumsi asam lemak omega-3

Makanan yang mengandung asam lemak omega-3 tidak hanya dapat mendukung perkembangan otak dan mata anak, tetapi juga bisa menjaga kesehatan kulit, termasuk kulit kepalanya.

Asam lemak omega-3 dapat mengontrol produksi minyak dan mengatur kelembapan kulit kepala. Selain itu, asam lemak ini juga bisa mengurangi peradangan dan iritasi, sehingga dapat meringankan gatal akibat ketombe.

Asam lemak omega-3 bisa didapat dari makanan laut, seperti salmon, tuna, makerel, herring, atau sarden, serta kacang-kacangan dan biji-bijian, seperti kacang kenari atau chia seed.

Ketombe pada anak merupakan masalah kulit yang sebenarnya ringan, tapi bisa sangat mengganggu. Untungnya, masalah ini biasanya dapat diatasi dengan perawatan mandiri di rumah. Bunda bisa mencoba beberapa cara di atas agar ketombe pada kepala Si Kecil hilang dan tidak muncul kembali.

Jika ketombe tidak kunjung membaik setelah 2–3 minggu perawatan di rumah atau Si Kecil tetap sering menggaruk-garuk kepalanya, sebaiknya Bunda memeriksakan Si Kecil ke dokter untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.

Bunda, Ini Lho Penyebab Bayi Lambat Tengkurap dan Cara Melatihnya

Bunda, Ini Lho Penyebab Bayi Lambat Tengkurap dan Cara Melatihnya

Bunda, Ini Lho Penyebab Bayi Lambat Tengkurap dan Cara Melatihnya

 

“Bayiku kok belum bisa tengkurap, ya?”. Jika pertanyaan ini muncul dalam benak Bunda, jangan khawatir dulu, Bun. Untuk bisa tengkurap, setiap bayi membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Namun, ini bisa dipercepat dengan melatihnya sejak awal.

Bayi umumnya butuh waktu sekitar 5–6 bulan untuk bisa berguling dari posisi telentang ke posisi tengkurap. Sebelum itu, coba perhatikan apakah Si Kecil mulai sering menggeser badan atau menggerak-gerakkan lengan dan kakinya. Ini adalah tanda Si Kecil siap berguling dan tengkurap.

Penyebab Bayi Lambat Tengkurap dan Cara Melatihnya

Ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan bayi lambat tengkurap. Salah satunya adalah lahir prematur. Bayi prematur biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembangkan keterampilan bergeraknya dibandingkan bayi normal.

Selain itu, ada beberapa kelainan yang dapat menyebabkan kemampuan bergerak bayi terganggu, antara lain:

Kelainan ini terjadi karena faktor genetik dan biasanya terjadi sejak bayi lahir. Jadi, selama Si Kecil masih ceria, aktif menggerakkan kaki dan tangannya, apalagi masih berusia di bawah 5 bulan, Bunda tidak perlu khawatir. Mungkin saja ini memang belum saatnya ia tengkurap.

Untuk melatih Si Kecil agar bisa cepat tengkurap, Bunda bisa melakukan beberapa cara berikut ini:

Tengkurapkan bayi selama beberapa menit

Sejak Si Kecil lahir Bunda sudah bisa, lho, melatihnya tengkurap beberapa kali sehari. Ini juga sering disebut dengan tummy time. Namun, Bunda harus selalu mengawasinya, terutama saat Si Kecil masih belum bisa mengangkat kepala sendiri. Meninggalkan bayi tanpa pengawasan saat sedang tengkurap dapat meningkatkan risiko terjadinya sudden infant death syndrome (SIDS).

Saat pertama kali ditengkurapkan, bayi mungkin akan merasa tidak nyaman dengan posisi ini. Agar Si Kecil nyaman, Bunda bisa mulai melatihnya tengkurap di atas dada Bunda terlebih dahulu sebelum menengkurapkan di kasur atau lantai. Jangan lupa untuk mengajak Si Kecil bicara atau bermain agar ia merasa nyaman.

Bantu bayi berguling ke posisi tengkurap

Jika sewaktu-waktu Si Kecil terlihat seperti ingin membalikkan badan namun kesulitan, bantulah ia dengan mendorong tubuhnya secara perlahan hingga ke posisi tengkurap.

Latih bayi tengkurap dengan mainan

Si Kecil bisa juga rewel dan menunjukkan rasa tidak suka ketika Bunda melatihnya untuk tengkurap. Jangan bingung, Bunda bisa menaruh mainan di depan Si Kecil untuk mengalihkan perhatiannya.

Selain itu, menaruh mainan di depan Si Kecil selama tengkurap bisa membuatnya mengangkat kepala dan menopang badan menggunakan lengannya. Posisi seperti ini dapat melatih otot leher dan lengannya dan membuatnya lebih kuat untuk bisa tengkurap sendiri.

Hal penting lain yang harus Bunda ingat adalah jangan terlalu sering menggendong Si Kecil atau menaruhnya di bouncer maupun stroller. Ini dikhawatirkan akan membatasi kesempatannya untuk bergerak dan melatih kekuatan ototnya.

Penyebab bayi lambat tengkurap biasanya tidak serius. Selama Si Kecil sehat dan aktif, Bunda tidak perlu khawatir. Cobalah lakukan cara-cara di atas agar ia cepat tengkurap. Namun, jika usia Si Kecil sudah 5 bulan dan tetap belum bisa tengkurap meski sudah sering dilatih, sebaiknya konsultasikan kondisi Si Kecil ke dokter.

 

sumber : https://www.alodokter.com/

Kenali Tanda-tanda Bayi Mengalami Dehidrasi

Kenali Tanda-tanda Bayi Mengalami Dehidrasi

Kenali Tanda-tanda Bayi Mengalami Dehidrasi

 

Bayi dan anak-anak rentan mengalami dehidrasi. Saat Si Kecil mengalami dehidrasi, ia tidak bisa berbicara pada Anda. Padahal, kondisi kekurangan cairan tubuh ini bisa berbahaya baginya, terlebih jika tidak ditangani dengan benar. Yuk, ketahui tanda-tanda bayi mengalami dehidrasi di sini.

Dehidrasi terjadi ketika tubuh tidak mendapat cukup cairan sehingga kinerja organ tubuh terganggu. Kondisi ini paling mudah menghampiri bayi, sebab berat tubuhnya yang masih rendah, ditambah laju metabolisme pada bayi yang lebih tinggi jika dibandingkan orang dewasa. Sehingga, membuatnya sensitif jika kehilangan cairan, walau jumlahnya sedikit.

Kenali Tanda-tanda Bayi Mengalami Dehidrasi - Alodokter

Penyebab dan Tanda Bayi Dehidrasi

Selain beberapa hal di atas, bayi yang fungsi kekebalan tubuhnya masih lemah dan berkembang rentan terserang infeksi. Saat sakit, tubuh bayi berisiko tinggi mengalami dehidrasi.

Berikut beberapa faktor lain yang juga bisa membuat bayi dehidrasi, yaitu:

Demam

Demam adalah kondisi yang sering membuat bayi dehidrasi. Ketika demam, terjadi penguapan air berlebih dari kulitnya karena suhu panas. Kemudian Si Kecil akan banyak berkeringat karena tubuh berusaha menurunkan suhu tubuhnya. Semakin tinggi demam yang dialami Si Kecil, maka kemungkinan dia mengalami dehidrasi lebih tinggi.

Diare dan muntah

Dua kondisi ini sering terjadi ketika saluran cerna bermasalah, seperti saat sedang terkena gastroenteritis.
Saat diare menyerang, bayi tidak bisa menyerap cairan dari ususnya dengan baik, sementara cairan banyak yang terbuang karena terus-menerus buang air besar.
Muntah juga membuat cairan tubuhnya terkuras. Kedua kondisi ini bisa membuatnya demam, sehingga cairan yang keluar pun juga lebih banyak.

Kurang minum

Kurangnya cairan seperti saat tidak mendapat asupan ASI yang cukup, bisa membuat bayi Anda mengalami dehidrasi. Beberapa kemungkinan yang membuatnya menolak untuk minum adalah sedang tumbuh gigi, pilek, sariawan, atau penyakit mulut lainnya. Kondisi tersebut bisa membuat mulut dan tenggorokannya nyeri dan tidak nyaman saat minum.

Berkeringat

Udara panas atau memakai baju berlapis-lapis bisa membuat Si Kecil mengeluarkan banyak keringat dan membuat cairan tubuhnya terkuras.

Dehidrasi memiliki tingkatan, ada yang ringan dan mudah ditangani, sedang, atau parah. Dehidrasi parah bisa bisa mengancam nyawa jika tidak segera diobati. Berikut ciri-ciri dehidrasi ringan dan sedang:

  • Mulut dan bibirnya terlihat kering.
  • Tidak ada air mata saat menangis.
  • Tampak rewel dan kurang mau bermain.
  • Tidak kuat menyusu seperti biasa.
  • Warna urine tampak lebih gelap dan baunya lebih menyengat dari biasanya.
  • Popoknya kering, padahal sudah dipakai lebih dari 6 jam.

Sedangkan dehidrasi yang sangat parah ditandai dengan:

  • Tangan dan kakinya yang terasa dingin.
  • Tubuh terlihat pucat.
  • Mata dan ubun-ubun Si Kecil tampak
  • Sangat lemas dan mengantuk.
  • Sesak napas.
  • Tekanan darah rendah.

Tangani Dehidrasi dengan Benar

Jika tidak segera ditangani, dehidrasi bisa membahayakan Si Kecil. Jadi, jika melihat tanda-tanda bayi mengalami dehidrasi segeralah lakukan hal-hal di bawah ini:

  • Jika Si Kecil mengalami diare, demam, atau keringat berlebih, berikan ASI atau susu formula lebih banyak dari biasanya. Minuman elektrolit, seperti oralit, juga bisa diberikan jika bayi berusia di atas 3 bulan.
  • Apabila cairan tubuhnya berkurang akibat muntah, jangan langsung memberinya cairan dalam jumlah yang banyak sekaligus. Coba berikan cairan dalam jumlah sedikit namun sering. Cairan yang bisa Anda berikan yaitu ASI, susu formula, atau minuman elektrolit. Anda bisa memberinya sesendok cairan tiap 10 menit selama beberapa jam. Setelah kondisinya terlihat membaik, berikan 2 sendok tiap 5 menit.
  • Rasa sakit pada mulut bayi yang membuatnya menolak untuk minum bisa diatasi dengan memberinya obat-obatan, seperti paracetamol. Obat ini juga bisa diberikan untuk membantu meredakan demam. Obat ini bisa diberikan jika bayi sudah berusia 6 bulan ke atas.

Diare akibat infeksi pada saluran cerna bayi paling sering disebabkan oleh virus. Kondisi ini akan membaik dengan sendirinya jika perawatan di rumah memadai. Karena itu, pemberian obat sakit perut anak tidak selalu dibutuhkan, kecuali atas dasar anjuran dokter.

Pemberian obat antibiotik tidak perlu diberikan setiap kali anak diare, obat ini hanya efektif jika Si Kecil mengalami diare karena infeksi bakteri. Karena itu, penting untuk memeriksakan kondisi Si Kecil ke dokter untuk menentukan penyebab dehidrasinya.

Selain cara-cara di atas, bila Si Kecil dehidrasi karena udara panas, Anda bisa memberikan cairan lebih banyak dari biasanya dan menyejukkan suhu ruangan dengan AC atau kipas angin. Pemberian cairan yang cukup juga bisa membantu menurunkan suhu tubuh bayi, selain dengan pemberian obat dokter.

Segera periksakan Si Kecil ke dokter anak jika dehidrasi yang dialaminya parah, atau tidak kunjung membaik. Jika dehidrasi yang dialaminya berat, atau kondisinya semakin lemah, maka Si Kecil perlu mendapatkan perawatan dan pemantauan ketat di rumah sakit.

Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Alergi Pada Bayi

Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Alergi Pada Bayi

Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Alergi Pada Bayi

 

Alergi pada bayi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dikeluhkan. Alergi adalah reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat asing yang dihirup, disuntikkan, tertelan, atau bahkan tersentuh.

Meski umum diderita oleh bayi, namun menentukan apa penyebab alergi pada bayi seringkali tidak mudah. Sebenarnya faktor apa saja yang mungkin menyebabkan alergi pada bayi dan seperti apa penanganannya?

Penyebab Alergi pada Bayi

Faktor genetik sering memainkan peran penting dalam terjadinya alergi pada bayi. Jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi, maka bayi dapat berisiko mengalami alergi hingga 70%. Faktor lain yang sering menjadi penyebab terjadinya alergi pada bayi adalah makanan dan lingkungan. Alergi karena lingkungan sendiri lebih jarang ditemui dibandingkan alergi yang disebabkan oleh makanan.

Beberapa makanan yang paling sering menyebabkan alergi antara lain kacang, susu, telur, kerang, dan ikan. Sementara itu, alergi yang disebabkan oleh lingkungan, biasa terjadi saat Si Kecil menginjak usia 18 bulan. Pada usia tersebut, anak bisa menunjukkan alergi terhadap benda-benda yang ada di dalam maupun di luar ruangan, seperti serbuk sari, tungau, bulu hewan, jamur, dan kecoak.

Ada juga beberapa penyebab lain alergi pada bayi. Misalnya saja gigitan serangga yang bisa menyebabkan kulit membengkak, gatal, dan memerah. Lalu ada obat-obatan dan bahan kimia tertentu, seperti detergen, yang bisa menyebabkan alergi pada bayi.

Gejala Alergi pada Bayi

Jika menderita alergi akibat salah satu faktor di atas, bayi biasanya akan menunjukkan beberapa gejala berikut:

  • Bengkak pada wajah, bibir, dan lidah.
  • Muntah-muntah.
  • Diare.
  • Gatal-gatal atau kulit terdapat bilur-bilur menyerupai bekas luka.
  • Batuk-batuk atau bersin-bersin.
  • Kulit memerah atau ruam.
  • Susah bernapas.
  • Hilang kesadaran atau pingsan.

Cara Mengatasi Alergi pada Bayi

Cara terbaik mengatasi alergi adalah dengan mengetahui penyebabnya. Dengan mengetahui penyebabnya, kita dapat menghindarkan bayi dari paparan zat pemicu alergi (alergen), sehingga reaksi alergi tidak muncul.

Jika makanan yang mungkin menjadi penyebabnya, maka tundalah memberi makanan yang berpotensi menyebabkan alergi kepada bayi, terutama kacang-kacangan. Pendapat dokter patut dijadikan acuan jika Anda memang ragu akan pemberian makanan yang bisa menyebabkan alergi.

Sementara itu, untuk menghindarkan bayi dari alergi debu dan tungau bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan tempat tidur, ruangan, dan mainan Si Kecil. Demikian juga dengan alergi yang disebabkan oleh jamur dan kecoak. Hindari juga merokok di dekat bayi.

Pada dasarnya alergi pada bayi tidak terjadi begitu saja, melainkan membutuhkan waktu. Makin sering bayi bersentuhan dengan alergen atau penyebab alergi, maka makin cepat dia akan memunculkan reaksi alergi. Hal ini terjadi karena tubuh memiliki ambang batas toleransi, yaitu batas tertinggi tubuh untuk menerima paparan. Jika paparan dialami secara berlebihan, akan memicu reaksi dari sistem pertahanan tubuh dan terjadilah alergi.

Maka jangan heran jika bayi Anda awalnya tidak alergi terhadap serbuk sari atau bulu kucing, namun beberapa waktu kemudian akan mengalami reaksi alergi setelah terpapar beberapa kali. Ada jeda waktu tertentu yang dibutuhkan oleh alergen untuk membuat kekebalan tubuh bereaksi terhadapnya.

Jika sampai terjadi alergi pada bayi, maka mengobati obat-obatan yang biasa dipakai adalah obat antihistamin dan kortikosteroid. Tentunya pemakaian obat-obatan tersebut harus di bawah pengawasan dokter atau dokter spesialis anak.

 

sumber :https://www.alodokter.com/

Ibu, Tepati Jadwal Imunisasi demi Keselamatan Buah Hati

Ibu, Tepati Jadwal Imunisasi demi Keselamatan Buah Hati

Ibu, Tepati Jadwal Imunisasi demi Keselamatan Buah Hati

 

Imunisasi adalah upaya pemberian bahan antigen untuk mendapatkan kekebalan adaptif pada tubuh manusia terhadap agen biologis penyebab penyakit. Dengan kata lain, langkah ini bertujuan agar tubuh dapat melindungi dirinya sendiri. Penting untuk memenuhi jadwal imunisasi agar anggota keluarga terhindar dari penyakit berbahaya.

 

Pemberian vaksin, baik untuk anak-anak maupun untuk dewasa, adalah cara pencegahan penyakit yang umum dilakukan. Vaksin yang mengandung virus atau bakteri yang telah dilemahkan, atau protein mirip bakteri yang diperoleh dari pengembangan di laboratorium, bekerja mencegah penyakit dengan cara menimbulkan reaksi imunitas tubuh dan mempersiapkan tubuh untuk melawan serangan infeksi di kemudian hari.

Ibu, Tepati Jadwal Imunisasi demi Keselamatan Buah Hati - Alodokter

Imunisasi pada umumnya aman diberikan. Namun, seperti juga obat-obatan lain, vaksin pun berpotensi menimbulkan efek samping. Meski demikian, efek samping imunisasi mengakibatkan risiko yang lebih kecil jika dibandingkan risiko penyakit yang bisa muncul akibat tidak menjalani imunisasi. Efek samping yang paling umum terjadi setelah diimunisasi antara lain adalah demam ringan, kemerahan pada area yang disuntik, dan alergi. Umumnya kondisi-kondisi ini dapat reda dengan sendirinya. Namun tetap penting bagi orang tua untuk menginformasikan pada dokter jika anak memiliki alergi terhadap kandungan tertentu di dalam vaksin.

Mencermati Jadwal Imunisasi

Beberapa vaksin cukup diberikan sekali, tetapi sebagian lain perlu diulang setelah periode tertentu, agar tubuh terus mendapat perlindungan. Inilah mengapa penting bagi orang tua untuk mencermati dan menaati jadwal imunisasi keluarga.

Berikut jenis imunisasi yang tergabung dalam program pemerintah, dan didanai oleh pemerintah, bagi bayi di bawah usia 1 tahun di Indonesia:

  • Usia 0 bulan: BCG, HB-0, Polio-0
  • Usia 2 bulan: DPT/HB/Hib-1, Polio-1
  • Usia 3 bulan: DPT/HB/Hib-2, Polio-2
  • Usia 4 bulan: DPT/HB/Hib-3, Polio-3
  • Usia 9 bulan: Campak

Pada umumnya, imunisasi dasar dipenuhi saat anak berusia 1-4 tahun. Di masa ini juga biasanya dilakukan imunisasi ulangan untuk memperpanjang masa kekebalan imunisasi dasar. Beberapa jenis imunisasi juga diulang lagi pada usia 5-12 tahun, sedangkan usia 13-18 tahun biasanya digunakan untuk imunisasi tambahan. Mendapatkan vaksin tepat waktu sesuai usianya sangat penting dilakukan. Jika terlambat, Anda bisa membuat jadwal imunisasi baru dengan dokter.

Berikut ini adalah jenis imunisasi yang dianjurkan berdasarkan kelompok umur:

  • Usia kurang dari 1 tahun: BCG, hepatitis B, polio, DPT, campak, HiB, pneumokokus, rotavirus.
  • Usia 1-4 tahun: DPT, polio, MMR, tifoid, hepatitis A, varisela, influenza, HiB, pneumokokus.
  • Usia 5-12 tahun: DPT, polio, campak, MMR, tifoid, Hepatitis A, varisela, influenza, pneumokokus.
  • Usia 12-18 tahun: Td, hepatitis B, MMR, tifoid, hepatitis A, varisela, influenza, pneumokokus, HPV.
  • Usia lanjut usia: influenza, pneumokokus (vaksin PCV).

Selain itu, terdapat pula imunisasi yang dianjurkan untuk diberikan pada daerah endemis, seperti imunisasi japanese encephalitis, umumnya diberikan mulai usia 1 tahun, dan diulang pada usia 3 tahun. Vaksinasi Dengue untuk mencegah demam berdarah juga direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mulai usia 9 tahun, dalam 3 kali pemberian dengan jarak 6 bulan.

Di bawah ini adalah tabel jadwal imunisasi lengkap untuk anak, agar Anda dapat memeriksa kembali vaksin mana yang barangkali belum diberikan.

Jadwal Imunisasi Anak 0-18 tahun
Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

Ibu, Tepati Jadwal Imunisasi demi Keselamatan Buah Hati - Alodokter

Jadwal selengkapnya dapat diunduh di laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Bawalah anak ke Puskesmas atau setidaknya ke Posyandu secara berkala untuk diimunisasi sesuai jadwal yang disusun oleh program pemerintah. Vaksinasi atau imunisasi dinilai 90-100 persen efektif melindungi manusia dari serangan penyakit berbahaya. Bahkan jika vaksin tidak sepenuhnya melindungi dan infeksi tetap terjadi, gejala pada anak yang sudah diimunisasi tidak akan separah anak-anak lain yang sama sekali belum pernah mendapat vaksin. Konsultasikan lebih lanjut pada dokter anak, untuk mendapatkan rekomendasi imunisasi yang tepat bagi Si Kecil.

 

sumber : https://www.alodokter.com/

Jaga Kesehatan Anak Selama Pandemi Virus Corona, Begini Caranya

Jaga Kesehatan Anak Selama Pandemi Virus Corona, Begini Caranya

Jaga Kesehatan Anak Selama Pandemi Virus Corona, Begini Caranya

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya dalan keadaan selalu sehat. Apalagi, di tengah pandemi virus corona (COVID-19) yang sedang terjadi saat ini.  

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya dalan keadaan selalu sehat. Apalagi, di tengah pandemi virus corona (COVID-19) yang sedang terjadi saat ini.  

Berbagai upaya akan dilakukan orang tua untuk menjaga kesehatan anak. Salah satunya dengan cara tidak beraktivitas di luar. 

Namun, masih ada beberapa hal yang busa dilakukan untuk memastikan anak tetap sehat dan terhindar dari virus corona. Apa saja?

Menjaga kesehatan gigi anak dengan menyikat gigi 2 kali dalam sehari memang sangat penting. Namun, setelah menggunakan sikat gigi, kamu harus menutup kembali kepala sikat.

Hal itu dilakukan untuk menghindari bakteri yang akan berkembang di kepala sikat tersebut. 

Mengonsumsi buah dan sayuran 

 

sumber : https://www.genpi.co/

Amankah Penggunaan Hand Sanitizer pada Bayi?

Amankah Penggunaan Hand Sanitizer pada Bayi?

Amankah Penggunaan Hand Sanitizer pada Bayi?

Di tengah mewabahnya virus Corona, Bunda mungkin bertanya-tanya, perlukah membersihkan tangan Si Kecil dengan hand sanitizer untuk mencegah penularan virus? Jika Bunda mau tahu jawabannya, yuk, simak penjelasan berikut.

Hand sanitizer adalah pembersih tangan berbahan alkohol yang bisa berbentuk cairan atau gel. Kandungan alkohol di dalamnya bisa berupa etanol atau isopropanol. Biasanya, hand sanitizer digunakan sebagai alternatif pembersih tangan untuk melindungi diri dari virus Corona ketika tidak ada air dan sabun untuk mencuci tangan.

Amankah Penggunaan Hand Sanitizer pada Bayi? - Alodokter

Infeksi virus Corona atau COVID-19 diduga dapat menular secara tidak langsung. Misalnya, bila seseorang menyentuh benda yang sudah terkontaminasi cipratan ludah penderita yang mengandung virus Corona, lalu menyentuh mulut, hidung, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Bolehkah Bayi Menggunakan Hand Sanitizer?

Penggunaan hand sanitizer pada bayi sebaiknya dihindari, ya, Bun. Kulit bayi masih sangat lembut dan sensitif sehingga rentan mengalami masalah pada kulit. Oleh karena itu, kulit bayi tidak boleh sembarangan bersentuhan dengan bahan kimia.

Kandungan alkohol dalam hand sanitizer bisa menyebabkan iritasi pada kulit bayi. Selain itu, alkohol cenderung membuat kulit kering. Kondisi kulit yang kering akan lebih rentan mengalami gatal-gatal, alergi, maupun infeksi. Ditambah lagi, alkohol juga bisa terserap ke aliran darah bayi melalui kulitnya yang tipis.

Untuk membersihkan tangan Si Kecil, usahakan untuk menggunakan air dan sabun yang diformulasikan khusus untuk bayi. Namun, bila air dan sabun tidak tersedia, Bunda bisa menggunakan tisu basah yang aman bagi bayi.

Selain menjaga kebersihan tangan Si Kecil, ada beberapa langkah lain yang bisa Bunda lakukan untuk menghindarkannya dari virus Corona, antara lain:

  • Tetap berikan ASI kepada Si Kecil secara rutin untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.
  • Bila Si Kecil sudah bisa mengonsumsi MPASI, berikan ia makanan yang bergizi seimbang sambil tetap memberikannya ASI.
  • Cuci tangan Bunda dengan air mengalir dan sabun sebelum menyentuh, menyusui, menggendong, atau menyiapkan makanan Si Kecil.
  • Sebisa mungkin hindari membawa Si Kecil ke tempat ramai, seperti pasar atau mall.
  • Kenakan masker apabila Bunda sedang batuk atau pilek.
  • Jauhkan Si Kecil dari orang yang sedang sakit.

Menggunakan hand sanitizer memang efektif untuk membersihkan tangan dari kuman penyakit, termasuk virus Corona. Namun, penggunaannya pada bayi bisa menyebabkan iritasi yang justru bisa menimbulkan gangguan atau penyakit pada kulit.

Untuk menghindarkan Si Kecil dari virus Corona, gunakan produk yang aman untuk membersihkan tangannya. Lakukan juga langkah-langkah lain yang tidak kalah penting untuk mencegah virus Corona pada bayi.

Bila Si Kecil menunjukkan gejala infeksi virus Corona, segera periksakan ia ke dokter. Bunda bisa chat dulu dengan dokter di aplikasi Alodokter jika masih ragu apakah gejala yang dialami Si Kecil mengarah pada infeksi virus Corona atau tidak. Di aplikasi ini, Bunda juga bisa membuat janji konsultasi dengan dokter di rumah sakit.

 

sumber : https://www.alodokter.com/

Our Brands